Feeds:
Posts
Comments

K.O.M.U.N.I.K.A.SI

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Tulisan ini dibuat saat hati ini masih gundah gulana, belum lagi akibat ulah remaja labil yang membuat teriakan ku hampir membangunkan tetangga sebelah….

Bahkan nasyid pun tak mampu meredam panasnya hati ini….

Aku kembali jatuh dalam lubang yang sama, lubang kesalahan yang kubuat sendiri, karena aku mungkin tak akrab dengan teman bernama KOMUNIKASI, aku mau berteman tapi aku merasa aku sering diputarbalikkan oleh kata-kata ini.

Aku mencoba memahami setiap seluk beluk kata ini, tapi yang kudapatkan hanya kebuntuan karena aku punya batas yang tak mampu kuruntuhkan, aku bagai air di pucuk daun yang siap jatuh ke tanah, lalu terserap begitu saja, terombang ambing karena arogansi diri atau lingkungan luarku, lalu apa peranku pada KATA ini, aku tak mampu mencercah demi suku kata yang dibangunnya, apa aku terlalu emosi menghadapi kata ini.

K.O.M.U.N.I.K.A.S.I

Aku memang tak sedikitun meninggalkannya untuk tidak lagi menghargainya, tetap saja ia kupuja, sering kusebut dalam setiap permasalahan yang dilemparkan padaku, karena aku terlanjur tak punya teman lain yang bisa kujadikan alasan untuk mereka, setidaknya ia tidak pernah mengeluh sekalipun aku memaksa.

Maka, jikalau ada yang membuat ku gundah gulana saat ini adalah, keguasaran ku jika Komunikasi bagai kata tak di anggap dengan sepenuh fungsinya, aku pernah dibenarkan oleh KOMUNIKASI, aku pernah disalahkan karena KOMUNIKASI, atau aku bagai tak ada juga karena KOMUNIKASI

Adakah yang salah dari engkau, wahai teman?? Apa aku salah jika membenarkanmu beberapa bulan ini, karena aku pahami engkau bukan karena keterpaksaan, tapi karena saat itu tuntutan tugas yang harus kujalankan, aku mungkin menceracau saat menjelaskanmu, aku mungkin tak sepenuh ilmu berbagi dengan orang sekitarku, atau aku memang tak berada di ragaku saat aku cuma bilang, MANA KOMUNIKASI KALIAN???

Aku beruntung saat itu, memperolehmu menjadi suatu hal yang baru, lalu aku seperti terhipnotis sampai saat ini, menganggapmu sebagai suatu hal yang menjadi pembenaranku, wajar jika aku berulang kali mendapatkan kekesalan yang sama saat engkau cuma dipermainkan kata.

Kalau jiwa ini lelah saat jawaban ku hanya komunikasi, maka aku cukup tersenyum, berarti memang engkau masih diperlukan, aku tak ingin menjadi orang munafik, sungguh tak ingin…aku yakin apa yang telah kusampaikan saat itu, bukan mengada-ada, bukan pelepasan beban,….

Aku merasa harus berterima kasih pada kalian yang membuatku begitu paham akan arti pentingnya KOMUNIKASI, mengajarkan ku sabar pada hal-hal yang membuatku begitu kacau,…

Kata marah, sedih, bosan, emosi dan negatif yang dulunya mengawali setiap bebanku, sedikit demi sedikit kuracun dengan hati yang penuh pengertian, aku mencari bibit damai, lau kusemai di tanah hati, agar tak ada lagi kebencian yang dulu ku anggap tak akan bisa hilang dalam diriku, Ya Allah…aku memang salah jika hanya diriku yang selalu mencari pembenaran.

Aku yang menjunjung KATA ini, hanya kuselipkan di hatiku, karena aku telah diajarkan hal yang sama oleh mereka yang menganggap bahwa kata-kata lah yang akan membuat semua lebih mengerti…

Aku yang di ajar oleh mereka dengan cara yang begitu unik, mendengarkan setiap kataku, membimbing arah pikiran yang selama ini kupendam, mengajak membuka dunia yang selama ini aku asingkan, menyediakan media yang selama ini tak ku sentuh, aku belajar dari mereka dalam hal memandang hidup, menyikapi masalah, mengkaji setiap langkah, yang memulai semua dengan KOMUNIKASI

Maka inilah tulisan tentang dirimu yang dulunya tak berani untuk aku ungkapkan, aku hanya seseorang yang tak suka mengatur kata dengan utuh, tapi aku suka segala bentuk ketersembunyian dari kata yang kita ungkapkan…

Semalam aku kelukaan,
kecewa kehampaan,
mencalar ketabahan,
mimpi yang sering ku harapkan,
menjadi kenyataan,
namun tak kesampaian.

Allah…
Inginku hentikan langkah ini,
bagaikan tak mampu untuk ku bertahan,
semangat tenggelam,
lemah daya,
haruskah aku mengalah,
namun jiwaku berbisik,
inilah dugaan.

Dan langkahku kini terbuka,
pada hikmah dugaan,
uji keimanan (menguji keimanan),
tak dilontarkanNya ujian,
di luar kekuatan,
setiap diri insan.

Allah…
Pimpinlah diriku,
tuk bangkit semula,
meneruskan langkah,
perjuangan ini,
cekalkan hati dan semangatku,
kurniakan ketabahan,
agar mimpi jadi nyata,
padaMu ku meminta.

Daku mohon agung kudratMu,
wahai Tuhan yang satu,
segalanya dariMu.

(Langkah Tercipta-UNIC)

Koto Tinggi No.16

Assalamu’alaikum wr.wb

Menikmat sore menjelang malam di koto tinggi no.16, di lantai 2 wisma ini, hari-hari dimulai dan ditutup dengan perasaan yang selalu ku ubah tiap harinya, menghabiskan malam dengan memandang BintangNya, menghitung setiap kerlipan dan berlomba sesama kami mana yang lebih terang dan mana bintang yang tidak terlihat, lalu tebaklah mana mereka….Subhanallah akan penciptaanMu, sesekali kami berujar salam untuk mereka yang mungkin ada disana, menggantungkan harapan bahwa gapaian kami setinggi langit akan kami usahakan, teriakan-teriakan kecil yang mungkin bisa membangunkan tetangga sebelah kanan (sebelah kiri rumahnya kosong Xp), candaan kami bahwa disana tak ada PR ataupun kompre, melayang sebentar lalu esok minta kembali, hayalan kecil kami walau umur tak lagi awali dengan angka satu,duduk di balkon,berdiri, memandang jauh, mendengarkan letusan mercon tanda pergantian tahun,.. semuaaa…terekam di setiap memori kami, aku mulai dari sini, ruang kecil yang belakangnya bisa di jadikan arena turun tali gaya anak mapala, atau suruhan anehku pada adik-adik agar turun tak lagi lewat pintu, tapi loncat lewat selokan, mungkin ini yang menyebabkan aku tak pernah di izinkan untuk beli tali…

Menikmati sore menjelang malam di koto tinggi no.16, mengulang semua kisah yang kami ukir bersama, ditemani hp yang kupaksa memutar semua lagu d mp3 nya, ku pandang sejenak keluar, dentuman seng atap rumah kami, masih kadang-kadang terdengar, aku tahu ini kegembiraan anak-anak SMA yang masih bersemangat melempari jambu depan rumah dengan sepatu dan jambu busuk lagi, asal jangan mengenai sarang tawon disana ya dek…g tau apa jadinya….

Menikmati sore menjelang malam di koto tinggi no.16, dentuman kas kayu kuat setiap kami melangkah turun ataupun naik dari lantai ini, jangan bilang aku juga tak cemas akan gempa, tapi ketakutanku seolah lenyap jika aku pertama kali menatap rumah ini, jika dahulu sepulang kuliah aku masih sempat berlari melewati tangga ini, lalu kembali turun jikan ada panggilan dinas, program, panggilan perut dan hal-hal lainnya di bawah, terkadang lucu jika aku lagi-lagi minta lift untuk pengganti tangga tersayangku….

Menikmati sore menjelang malam di koto tinggi no.16, kami mulai disini, tertawa, menangis, gembira, bersedih, meniup lilin kecil, bernyanyi, berteriak, makan jambu bersama dengan secuil garam, membeli donat, snack dam cappuccino, pamitan pulang kampung, tinggal sendiri saat remedial, terkunci di luar, memarkir sepeda dan motor, mati lampu 3 hari, air kran yang super kecil, ditegur pak RT, sayangnya kakak yang punya rumah , membaca buku, menatap layangan, rebutan kamar mandi, ungkapan “pergi dulu, assalamu’alaikum”, sholat jama’ah, shaum bersama, piket harian, buang sampah, lingkaran kecil, jadwal nyetrika yang cuma 3 hari, pindah kamar, kulkas hibah, banjir, piring makan bertumpuk, bikin madding bersama, bagi-bagi nasyid dan lain-lain yang membuatku akan menitikkan air mata…

Menikmati sore menjelang malam di koto tinggi no.16, memang tak disini, tapi sudah banyak hal yang kulewati bersama rumah seperti ini, mereka yang lulus, menikah, punya anak, dan semua pembelajaran terbaik dalam hidupku, Allah memang tak pernah menyia-nyiakan pertemuanku dengan orang-orang ini, kadang duka, lalu suka, terlalu banyak yang musti ditulis jika mengingat semuanya, mengajarkan banyak hal, kemandirianku, perubahan pada semuanya, terima kasihku untuk semua ilmu dan pengalaman yang sangat berharga ini,….
Menikmati sore menjelang malam di koto tinggi no.16, menikmati kesendirian saat yang lain pulang, menikmati semua yang telah terlewati…

Tribute to All, Mereka yang menjejakkan kaki untuk ” tulus dalam Mencinta”
17.49

20km/jam

Bismillah

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia Menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. (Ar Ruum 24)

Tak ada yang berbeda dari hari kamis yang lalu, tapi inilah kamis yang menyejarah bagiku, mungkin ungkapan hati ini terlalu berlebihan, begitulan jika orang lain mendengarkan, tapi tak soal hal itu, setiap orang punya pikiran sendiri dalam menghadapi harinya, begitu juga diri ini.

Kamis ini, selesai sudah kuliah dan tutorial ku selama 21 blok, ya, 3,5 tahun di FK Unand hampir kuselesaikan, artinya 4,5 tahun ini aku bergelar mahasiswa, hmmm…cukup lama,sudah lewat dari batas waktu normal perkuliahan, ini kan masalah beda tempat, toh siapa yang mau terlalu peduli akan hal ini….

Walaupun, saudaraku berkata “perjuangan belum usai”, bagiku memang belum untuk saat ini, jika melihat status akademikku yang masih punya catatan, maka kaki ini memang belum berhak untuk meninggalkan kampus, jika secara tak nyatanya dalam gumamku, aku masih dibutuhkan di kampus ini, jangan anggap ini sebuah penghiburan diri, tiap orang bermanfaat untuk orang lain…..

Mencoba setegar karang,

Hahaha, itulah yang cocok untuk diriku, ambil saja apa yang terlihat dari alam, karena maknanya bisa ke diri kita, ternyata karang diri ini berusaha teguh karena terlalu sering terkena hempasan gelombang, maka melihat gelombang yang besar,maka seyogyanya harus lebih siap…

OK…kita lanjutkan perjalanan kamis ini….

Packing setiap hari kamis adalah hal yang paling menyenangkan, tapi ini kamis yang beda, ternyata harus 2 tas kali ini, cukup berat, tapi tak jadi penghalang. Selesai mengisi perut dan sedikit candaan dengan adik2, saatnya berangkat,,,

Jalan yang dilalui tetap sama, ByPass,,..berkawan dengan truk-truk raksasa, berteriak-teriak minta jalannya,,iss…apalah aku ni yang cuma bawa mio yang sudah retak-retak dan premium yang tinggal setengah,,lewat lah pak, aku cuma minta jalan sedikit….

Selanjutnya, jalan pintas ke belimbing, tidak lebar, tapi jangan harap truk lewat sini, macet minta ampun…

_______________

Ada bagian yang ternyata tidak bisa diceritakan…..
17.30, ini dia yang telah dinanti,hujan turun sangat lebatnya, sekelebat bayangan pulang dari tempat ini menjadi materi tersendiri di kepalaku, ingat welan…apapun bisa terjadi…

Aku punya laptop yang harus lebih prioritas untuk di amankan, maka di balik mantel hitamku, bahuku ku paksa menanggung beban berat laptop yang cukup luar biasa, dan tass punggungku ku letakkan di kaki, setidaknya tas anti air ini bermanfaat….

Jalur berikutnya : belimbing-gunung sarik-sungai lareh..(pernahkah kalian mendengar tempat2 tsb? Xp)
Sekarang bukan hujan lagi yang jadi penghalang, tapi hujan telah membuat para lubang-lubang itu beisi air,ya Allah….mana jalan dan mana lubang sekaran rata di mataku, sudahlah..perlambat saja kecepatan motormu, itu solusinya…jadilah aku seperti membawa sepeda, kecepatan motor ini rendah sekali….

Kedua, gunung sarik, inilah ancaman nyata, longsor bisa terjadi kapan pun jika hujan selebat ini, kuperhatikan bukit gundul ini ditinggal para penambangnya, hanya traktor kuning itu yang tetap berdiri disana, jangan berharap lama di tempat ini dengan kecepatan 20 KM/Jam, bergegaslah welan…..

Di sungai lareh, hujan telah reda, owww….cantik sekali desaku, bukit hijau diselimuti kabut putih,,,,ingin ku abadikan semua, tempat kecilku berlari, masih ingat di bukit belakang sekolah kami berkejaran sampai puncaknya, dan permainan aneh ini, lomba melempar sandal (tentunya hanya terjadi pada hari jumat, hari lain kami pakai sepatu…), dari atas bukit itu ke bawah…dan tebaklah yang malang di jumat itu, sendalku nyangkut d bagian pinggang bukit rendah ini….nasib,,kubiarkan gelak tawa temanku melihat sendalku yang hanya sebelah….

Inilah sebagian dari memori yang selalu kujemput di setiap kamis, perjalanan pulang 45 menit tak akan pernah terasa, jika telah menjadi bagian dari kampung yang membuatku lebih menghargai arti teman dan persaudaraan….berpacu aku dengan waktu berharap masih melihat dua adikku beseragam pramukanya, memanggil si bungsu ke cermin menilai siapa yang lebih tinggi, berharap orang tuaku telah d rumah dengan makanan yang terhidang, inilah epilog rindu itu….

Tak pernah menjadi hal yang rugi walau sebentar di rumah, hanya 12 jam, lalu malam2 kamis ku ditutup dengan cerita pada semua, adik dan orang tua, inilah aku yang mencoba bertumbuh sesabar dan setegar karang….

Hazelnut ini manis adikku, karena kita menikmatinya bersama……

Walau Berkelana jauh di perantauan
Cerah langit di desa kekal jadi rinduan
Seluruh warganya bagaikan bersaudara
Ramah mesra di dalam senyuman
Benarlah tempat jatuh kan tetap dikenang
Tak sabar hati segra nak pulang……….

(Saujana-Inang Anak Perantau)

hari ini sebenarnya tak ada yang beda, aktifitas pagi dimulai dengan aktivitas pribadi, lanjut dengan aktivitas sampinganku sebagai mahasiswa, rapat pagi adalah hal yang paling menyenangkan, selain lebih segar,kita pun lebih siap menghadapi hal-hal yang akan di bahas.

tapi,aktivitas siang lah yang mulai berbeda,semenjak tak di BEM lagi, otomatis semua aktivitas organisasiku berkurang,yaaa…memang tak mengenakkan.tapi mencari kesibukan lain adalah salah satu usahaku menghindari kesuntukan di rumah….

kumulai d gazebo ini, aktivitas menulis yag lama kutinggalkan mulai ku lakukan kembali,walau panas siang cukup menyengat, setidaknya atap mungilnya berhasil membuatku teduh dan betah berlama-lama disini,aku memang tak akan bosan jika harus berteman dengan laptop cukup lama walau hanya sekedar menulis hal yang tak perlu,mungkin juga untuk yang satu ini….

3.40 telah menghentak d jam ku,hmmm…pulang adalah pilihan lain saat ini,berjam-jam aku duduk disini, mulai mentoring,menyelesaikan slide presentasi, dan menulis,dan tak lupa aku mengaktifkan diriku sebagai manusia auditorial,,,,
luar biasa siang ini, aku ditemani adik-adik 2008 yang belajar blok 15,cukup menarik bagi diriku yang kurang paham akan materi tersebut….

malam ini akan kuselesaikan hari dengan rapat internal,inilah salah satu kebisaanku malam hari,selain blajar dan baca,tentunya rapat…

akan kuselesaikan hutangku “Dalam Dekapan Ukhuwah”!!!

Belajar dari Nada

Tak ada yang berbeda dalam pesantren kali ini, masih sama, materi, setoran hafalan surat pendek, bacaan Asma’ul Husna dan komponen2 lainnya, instruktur, guru, juga santriwan dan santriwati.

Tapi suatu hal yang membuatku kembali tersadar dan membuka mata, akan hal yang terkadang jarang untuk dikerjakan, yaitu menghafal Alquran.

Tugasku hanya sebagai instruktur juga pemateri, tak banyak memang, namun cukup menyita waktu. Siang ini, aku bertugas menjadi instuktur SD, salah satunya tugasnya memeriksa setoran hafalan. Mulailah aku meneliti semua hafalan yang sudah dan baru disetorkan. Adik-adik memang antusias tapi aku tak kalah bersemangat, secepat kilat mereka membaca, aku pun dengan sigap memeriksa setiap bacaan yang dilantukan.

Dalam usia yang masih belia alias sangat muda, otak mereka memang cepat menghafal. Tak salah jika ada diantara mereka ada yang begitu menonjol dalam hafalan. Salah satu yang menjadi fokusku adalah Nada.

Beda dengan teman-temanku sesama instruktur yang lain, yang sudah dikerubuni banyak santri, sedari tadi aku hanya berkutat dengan nada, kenapa? Ya……ia tak henti-hentinya menyetor hafalannya, mungkin juga aku tak di cari santri lain, karena nada yang dari tadi juga tak berhenti.:D

Nada mulai memberikan setorannya, saat kutanya sudah berapa surat alquran yang ia setorkan sebelumnya, dengan ringan ia memperlihatkan buku catatan ramadhannya, subhanallah…15 surat pendek sudak disetor juga pada seorang instruktur, juga tidak berganti hari.

Nada mulai membaca, bismillahirrahmanirrahim….tak pernah ia lupakan bacaan ini saat memulai setiap surat baru. Kudengarkan dengan seksama dan teliti jika ada ayat yang ia keliru atau terlupa. Nada terus berlanjut, dari surat yang awalnya pendek menuju surat dalam juz ‘amma yang cukup panjang, tak ada jeda, sesekali memang ia harus melihatku berharap aku melanjutkan bacaannya yang terlupa, bahkan ia sebenarnya sudah bertanya “boleh klo panjang kak…”, tentu saja boleh adikku….

Subhanallah, hampir 14 surat ia selesaikan dalam pertemuan kami hari itu, memang Nada baru pertama kali kutemui, tapi ia berhasil membuatku tersadar….

Nada, adalah salah satu bukti bahwa pendidikan islam yang ia dapatkan sejak dini berdampak baik pada dirinya, ia juga bukan anak yang bikin ribut selama pesantren, ia anak yang cukup tenang, ramah dan bersahabat, dan masih kutunggu setoranmu selanjutnya dik…..

Lain lagi dengan Alif, walau tak banyak yang ia setorkan namun ia sangat bersemangat jika ada satu suratpun yang belum berhasil ia kuasai, kulihat wajahnya yang selalu tersenyum menghafal Asy-Syam, duduk bersimpuh di depanku, di tangannya alquran besar yang hampir menutup tubuhnya yang mungil. Ia selalu berteriak “tunggu kak,sedikit lagi…..”

Nada dan Alif, apakah kalian harapan kami dalam menegakkan agama Allah. Melanjutkan dakwah ini. Diriku malu pada dua santri ini, malu pada Nada yang punya hafalan yang banyak, malu pada Alif yang begitu semangat menuntut ilmu.

Sahabat, terkadang kita terlalu sibuk pada urusan dunia, sibuk sekolah, sibuk kuliah dan pekerjaan lainnya, sudah sejauh mana kita memahami ayat-ayat Allah, membaca Alquran, dan mengenal islam ini.

Teman, kenapa kita selalu terlambat memulai, tapi tak seharusnya kita berdiam atau berhenti, Nada dan Alif adalah sebuah contoh nyata bagi kita semua, betapa kita yang harusnya bisa lebih dari mereka dalam pemahaman.

Dan inilah berkah ramadhan yang harusnya kita rasakan, jangan tunda….ramadhan masih bersama kita,jangan pernah sia-siakan…..^^

Ayo Menghafal Alquran….^^

hari ini, sebuah pembelajaran dari seorang dokter untuk seorang calon dokter (insyaAllah amin…)

apa yang terpikir saat masuk ruangan praktek dokter, mungkin sebagian kita setidaknya berpikiran yang baik, bahwa di dalamnya ada seorang dokter yang mungkin hanya berucap sepatah atau dua patah kata,hilanglah sudah kata-kata si pasien yang seharusnya di ucapkannnya, karena begitu tegang menghadapi dokter yang sulit membentuk simpul bibirnya untuk tersenyum.nyaris kehilangan kata…

setidaknya tidak untuk hari ini,menghadapi seorang dokter spesialis yang bagiku sudah sangat luar biasa,sub spesialisnya saja sudah bikin orang terkagum-kagum,walaupun aku harus akui begitu gugupnya aku menghadapi wajah sang bapak,nyaris tanpa senyuman dan flat abis,sebisa mungkin aku bersiap diri kalo2 si bapak akan melontarkan pertanyaan terkait kuliah medik,mana tau statusku sebagai mahasiswa kedokteran terbongkar juga…..

belum selesai….
mulailah beliau bertanya pada si sakit yang kubawa hari itu,ups…
pertanyaan pertama memang di luar dugaan,mungkin si sakit akan keluar kamar praktek klo tak siap mental mendengarnya….
tak apa,baru permulaan…

dan,disilah bermula…
bahkan aku tak henti-hentinya memajang senyum tanda hormatku pada sang bapak
two thumbs for you sir,…
inilah dokter yang sungguh luar biasa pada pasien,.
sungguh…bisa dikatakan bapak menjelaskan patogenesis bagaimana si sakit bisa mendapatkan hal yang sebenarnya tak ingin dimilikinya,dalam bahasa awam…

bahkan tak segan-segan mengajak kami bercanda juga mengikutsertakan perawat….
kami di dengarkan dengan baik,dan diberikan penjelaswan denagn lugas….
bapak bahkan benar-benar tau kondisi keuangan kami yang masih mahasiswa,bagaimana ia menjelaskan sedetail mungkin bahwa si sakit tak perlu di rontgen atau ct-scan….
beliau bilang,,”percuma….”

penutup,bahkan si bapak lebih detail lagi menjelaskan tentang obat yang harus di konsumsi….
atau tak sungkan menjawab pertanyaan kami yang mungkin tak berkaiatan dengan kondisi si sakit saat itu….

aku benar-benar belajar pada si bapak,,bahwa edukasi pasien itu perlu…
bahwa mendatangkan ketenangan pada pasien itu sangat diharapkan….
se,moga cerita singkat yang tak terlalu menggugugah ini bisa jadi pengalaman bersama….

walaupun di akhirnya berdebat dengan apoteker…:p

thax2dr.4d’inspiration

POHON PISANG

Pohon pisang rasanya bukan satu jenis pohon yang asing dan langka bagi kita. Pohon berbatang lunak dan berdaun lebar itu rasanya masih dapat kita temukan di sekeliling kita. Mungkin kini keberadaannya mulai tersaingi dengan “pohon-pohon” lain yang berbatang beton. Tapi pohon ini selalu bisa tumbuh dimanapun berada, dalam musim dan cuaca yang berbeda sekalipun.
Hampir seluruh anggota tubuh pohon pisang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Mulai dari akarnyanuntuk obat sakit perut, batangnya untuk tempat dekorasi pembuatan janur atau dalam prosesi mengkremasi mayat. Pun daunnya untuk pembungkus hingga buahnya yang lezat unuk dimakan ataupun dimasak.
Begitulah seharusnya setiap kita, dapat memberikan manfaat bagi orang lain, dengan segenap apa yang kita miliki. Beramal dan terus beramal dengan segala kemampuan da talenta sekecil apapun yang kita punya.
Sebagaiman pohon pisang senantiasa dapat berbuah tanpa mengenal musim. Karena ia tak mengenal waktu dalam beramal. Tak mengenal masa dalamberbuat kebaikan. Memang seharusnya kontribusi tidak hanya dapat kita berikan pada saat tertentu di kala kita menginginkannya.Karena kontinunitas dalam suatu kebermanfaatan akan senantiasa dpat menjaga stabilitas iman. Sehingga kita tidak mudah tumbang diterpa “hama” yang selalu menggrogoti keikhlasan.
Untuk itu, pohon pisang akan menyimpan cadangan airnya pada musim hujan dan menggunakannnya pada musim kemarau. Kita pun demikian, harus mengetahui di saat mana bergitu lelah dan membutuhkan orang lain atau di saat kita tegar beramal dalam meniti jalan panjang kehidupan ini. Masing-masing kita tentunya pernah merasa sedemikian jenuh dan butuh nasehat dari orang lain ataupun dari sang khalik. Karenanya manfaatkanlah masa-masa itu, karena semua bisa kunjung menjenguk ketika jiwa kita membutuhkan penyegaran.